“Ah kamu mah pelit”

 Sebuah cerita pendek

Lapar. Itu yang di rasa Lanang dalam gelap malam. Ia sendiri, tak ada teman. Padahal di kantornya ramai. Tapi itu tadi, 15 menit yang telah lalu. Teman-temannya pergi mencari makan, dan kini tinggallah ia seorang diri yang menahan lapar.
“Krunyuk...” suara dari perutnya berbunyi, terus menerus, dan terus berulang. Lanang tak bisa berbuat banyak malam itu. Lanang hanya bisa pasrah berselimut resah. Menahan lapar adalah hal terburuk yang kerap ia temui dalam hidupnya. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak.
Waktu sudah malam memang. Sudah tak ada lagi yang dikerjakan. Sebagian kawan-kawannya pun sudah pada pulang. Lanang masih betah seperti ini, duduk sendiri, dan memikirkan nasib. Menurutnya, percuma saja pulang ke kosan, takkan ada juga makanan. Meratap diri sebagai orang malang.
Lanang sudah empat tahun berada di kota orang, tidak lagi di kampung halaman. Setelah menyelesaikan sarjanannya, Lanang mengupayakan diri untuk bisa mandiri. Tidak lagi bergantung dengan orang tuanya. Itu saja sudah dilakukannya semasa duduk di bangku kuliah. Karena memang pada awalnya Lanang tak diizinkan ibunya untuk kuliah karena alasan biaya.
Seminggu yang lalu, sebelum malam yang mengantarkannya kemalangan ini, ia pulang ke kampung. Bertemu dengan kedua orang tua dan adik-adiknya dirasakannya cukup menyenangkan. Tapi ada titik di mana rasa bersalah sebagai anak tertua itu bermula.
Lanang anak pertama dari tiga bersaudara. Adiknya yang sempat tinggal kelas semasa duduk di sekolah dasar, dan gagal melanjutkan ke perguruan tinggi karena tidak diterima hidupnya kini justru lebih enak dari pada dirinya yang bergelar sarjana. Sedangkan adiknya yang paling kecil masih duduk di bangku sekolah dasar, seorang wanita yang manja terhadap kakak-kakaknya.
Ini bermula dari dia hendak pamit ke kedua orang tuanya ke Jakarta.
“Pekan depan, aku ke Jakarta ya Pak, Mak. Aku dapat beasiswa dari salah satu perusahaan swasta untuk menggerakan dunia literasi di daerah kita. Aku sudah daftarkan diri. Di Jakarta aku hanya seminggu untuk ikut pelatihan,” kata Lanang pamit ke bapak dan mamaknya.
“Kau mau naik apa, pesawat apa jalur darat,” tanya mamaknya.
“Aku daftarkan diri naik pesawat. Semua biaya ditanggung perusahaan tersebut. Aku tinggal berangkat,” jawabnya.
“Jangan kau bawa oleh-oleh ya. Lampung-Jakarta kan tidak jauh. Tak usah kau cari apa-apa,” seru mamaknya lagi.
“Iya, kau itu sudah tua sekarang, sudah 25 tahun kan, tabung uang-uangmu, segeralah menikah. Bapak sudah rindu akan namanya cucu. Kurang apalagi kau, pacar kau kan dosen,” bapak Lanang menambahkan.
Lanang hanya bisa terdiam. Itulah beban yang semakin dirasakannya. Entah apa yang harus dilakukannya. Lanang hanya bisa menjawab ketidakyakinan dengan dirinya sendiri saat itu.
“Adik duluan tak apa. Aku masih lama sepertinya. Aku ingin bangun usaha dulu,” jawabnya sambil berlalu masuk kamar.
Bapaknya tak tinggal diam, meski melihat anaknya berjalan meninggalkan obrolan masuk ke kamar, suara sang bapak masih berseteru. “Jangan begitulah. Tak ada orang yang sukses kalau tidak menikah. Ada dua hal dalam hidup ini. Dia yang sukses sebelum menikah, atau sukses sesudah menikah. Nah, golongan tersebut dari golongan kaya dan orang biasa. Kau kan golongan orang biasa. jadi menikahlah, kurang apalagi, cari nafkah dan kekayaan bersama istrimu itu nantinya,” bapaknya berbicara panjang lebar yang entah didengarkan Lanang atau tidak.
Tapi Lanang mendengar seruan tersebut. Lantas ia tutup pintu kamarnya. Membuka laptop dan kembali menuliskan kata-kata. Itu yang bisa dilakukan Lanang ketika gundang menyerang membabi buta dirinya. Karena pasrah harus ditulis dalam sebuah cerita, agar ia tahu dibait mana ia telah melakukan kesalahan. Menulis cerita baginya mengabadikan sejarah dengan sudut pandang dirinya.
Keesokan harinya...
Lanang dalam kondisi tertidur di dalam kamarnya. Waktu memang sudah pagi. Tapi semalaman ia habiskan waktu untuk menulis. Alhasil kesiangan. Tapi, dia dibangunkan ibunya.
“Kak bangun, kamu pegang uang nggak 200 ribu. Mak bawa dulu tan, buat bayar dagangan, nanti agak siangan salesnya datang,” emaknya membangunkan butuh uang.
Lanang terbangun dan menjawab seadanya. “Coba tengok dompet itu mak, ada nggak. Kalau tak ada nanti habis mandi aku ambilkan dulu ke ATM,” jawabnya.
Emaknya pergi, uang tak ada yang bisa dibawa di dompetnya. Lanang lantas bergegas mandi, dan pergi ke kota untuk ambilkan uang.
Lanang memang biasa seperti itu. Gajinya di kantornya saat ini jauh dari kata layak, di bawah UMR, sedangkan dia harus menutupi kebutuhannya selama berada di kosan, belum lagi bulanan cicilan motornya, gaji 1.500.000 dapat apa dia. Bertahan hidup sudah alhamdulillah, bagaimana mau nabung, itu saja dia sering nombok untuk bayar cicilan.
Sedangkan teman-temannya di kantor terkadang mendapatkan uang lebih dari hasil keahliannya. Tak ada beban untuk bayar cicilan. Semua sudah ditanggung orang tuanya masing-masing. Nah, Lanang bisa apa kalau teman-temannya sedang berfoya-foya.
Pantas malam ini dia merasa kelaparan, ketika teman-temannya pergi meninggalkannya mencari makan malam. Tak ada yang bisa diperbuat kecuali bersabar dan menunggu hari esok lagi. Dihitung hari ini Lanang hanya makan sekali.
“Lo mau nitip nggak. Kita mau cari makan. Sekalian gua pake motor lo,” ujar Alek temannya.
“Boleh, tapi talangin dulu ya, tapi nggak sekarang, saya nggak pegang duit lagi,” jawab Lanang.
“Ah nggak lah, masa iya nggak ada, kamu ni kan memang pelit,” jawab Tian temannya yang lain.
Lanang sebenarnya bukan pelit. Ia selalu berbagi jika ada rezeki, bahkan diupayakan untuk rata. Tapi jika tidak ada apa ia harus memaksakan. Terkadang, teman bukan berarti mengerti kondisinya.
Lanang terbesit, perasaannya tercabik-cabik dengan perkataannya. Ia jadi ingat saat ia mengajak teman-temannya ke rumah cliennya karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan di sana. Teman-temannya mengeluh, karena si pemilik rumah tak keluarkan minum. Tapi sedengar Lanang, si pemilik rumah sudah mempersilakan untuk ambil minumnya sendiri di belakang. Karena mereka tamu, dan malu untuk mengambil sendiri, jadi tidak dilakukannya.
Setelah pulang sepanjang perjalanan, Lanang di bully habis-habisan teman-temannya, dan dimintai pertanggungjawaban untuk membelikan minuman dan makanan. Lanang dongkol, tapi tak dibahas, ia cukup mendiamkan.
Dalam hatinya ia memaki-maki teman-temannya yang tak tau diri itu. “Ah kamu ini kan memang pelit. Sama saja dengan clien mu itu.” berulang kali percakapan tersebut berulang dan terdengar jelas ditelinganya.
Ingin sekali Lanang menonjokan tangannya ke bibir temannya tersebut, tapi ia sadar malam semakin larut, tak perlu ribut, karena akan semakin semerawut, persoalan takkan selesai dengan kekearasan.
Lanang berupaya memberikan jawaban yang logis. “Kita sama-sama bekerja. Saya tak bawa uang, toh kalau saya ada rezeki saya selalu berbagi,” jawabnya halus.
Tapi, lagi-lagi cibiran pelit ke dirinya tak pernah beralih. Sampai akhirnya Lanang menyindir teman-temannya tersebut dengan status puisi di BBMnya. Sampai akhirnya tersindir teman-temannya tersebut dan mengklarifikasi bahwa mereka juga manusia, wajar jika mengeluh.
Lanang tak salah dalam hal ini, dia merasa dirinya benar. Toh selama ini memang begitu. Baginya jika ada rezeki harus diberikan kepada teman-temannya. Lanang jadi ingat tingkat tak tau diri teman-temannya tersebut.
Sewaktu teman-temannya bersandang ke rumah Lanang di kampung halaman. Ada toko kelontong jual rokok, minum dan makanan ringan pastinya dia tau resiko apa yang akan terjadi. Sebelum banyak tanya. Lanang pun keluarkan makanan dan minuman yang ada. Tapi temannya ini pesan rokok, dan memberikan uang. Namum, percakapan ingin membeli rokok dengan sedikit menyindir.
“Ini uangnya titip rokok ya, kalau bayar sebenarnya kebangetan, kan rokok dari warung sendiri,” kata Tian.
Lanang pun geleng kepala. Dalam benaknya ia menyindir, ada benar ternyata orang yang tak tau diri seperti ini. Ia pun pergi, ke warung ambilkan minum mineral dan rokok. Lanang menyusukan sesuai harga rokok tersebut.
“Nah, kan kebangetan, orang pelit ya begini. Masa iya teman sendiri masih harus bayar rokoknya,” sindir Tian.
“Rokoknya tidak beli di warung ibuku, tadi beli di warung tetangga. Tak ada rokok di warung, sudah habis,” Lanang berbohong.
Karena ia sadar manusia seperti itu tak bisa disampaikan terus terang. Sebenarnya ia ingin sekali berucap bahwa seandainya dirinya di posisi temannya tersebut, apa yang dilakukan. Dalam hatinya juga terus mengusik ingin menceploskan kata-kata.
“Mana ada rokok yang diproduksi sendiri. Produksi juga butuh biaya. Dijual diwarung dibeli di distributor pun pakai duit, bukan pakai mulutmu yang nggak normal itu kalau ngomong.” Ingin sekali ia melancarkan omongan tersebut. Tapi sekali lagi sebagai yang tua ia merasa harus ngalah dan biarkan Tian bercakap apa.
Malam ini pun berulang. Tian kembali sentimen soal dirinya kenapa tak makan malam ini. Lagi-lagi menyatakan bahwa Lanang adalah orang pelit. Tidak seperti dirinya yang pernah membelikan nasi uduk, namun ditagihnya lagi di waktu lain, dan itu masih diungkit-ungkit sampai saat ini.
Lanang memang jarang meminta-minta dengan teman-temannya. Karena ia yakin, akan ada keluhan dan ucapan tersebut, selalu mengingat yang pernah terjadi. Untuk itu ia lebih baik diam dan menyendiri jika memang sudah seperti itu suasananya.
Lantas, kalau sudah demikian, jurus satu-satunya Lanang adalah membuat tulisan. Ini dilakukannya juga untuk membohongi perutnya sampai akhirnya ia tertidur dan bangun di hari esok. Lanang tak bisa berbuat banyak keculi menulis.
Tapi setidaknya Lanang punya alasan kenapa malam ini ia tak makan. Sewaktu pagi, ia sempat diminta ke Rumah Sakit untuk ambilkan hasil lab ibunya. Hasilnya ibunya diminta dokter spesialis bedah syaraf untuk segera dioperasi jika tidak ingin tumor pada tulang kepalanya semakin besar dan mengakar.
Sebagai anak pertama, Lanang pun butuh uang yang banyak untuk menemani proses pengobatan ibunya. Karena ia khawatir ada biaya diluar biaya yang sudah di asuransikan. Pasti itu ada. Karena ibunya operasi di tulang kepalanya bukan kali ini saja. Dan ini yang kedua kalinya.
Di satu sisi ia juga masih banyak yang harus dilakukan. Sampai dia sedang mengkonsep membangun sebuah usaha, tapi tetap mendidik anak bangsa. Lanang merasa dirinya bukan pelit, tapi sedang mengirit, tapi tidak sebegininya. Kalau malam ini benar-benar ia tak pegang duit.
Akhirnya malam semakin membuatnya merasa sendiri. Ia kembali menangis. Menitihkan air mata itu sebenarnya sesuatu hal yang dibencinya. Tapi malam ini air mata tidak bisa ditolaknya. Sejadi-jadinya, ia berusaha tegar dan sabar, dari caci maki orang, dari bertahanya dari rasa lapar. Kehidupan yang lebih indah sedang ia rankai, sedang dimimpikan, dan sedang diusahakan untuk diwujudkannya. Terakhir dalam apa yang ia tuliskan disebuah catatan laptopnya, bahwa ia sedang merayu Tuhan untuk mewujudkan mimpinya. Harapannya, gelar sarjana bisa berguna, bukan menjadi orang-orang yang menderita.

Sampai akhirnya ia pulang larut malam ke kosannya. Ia tertidur, dan pagi kembali menyapa. Lantas ia bergegas untuk ke kantor. Ia pun izin sebentar untuk bertemu ibunya di rumah sakit. Si emak Lanang sedang mempersiapkan diri untuk menjalani operasi. Segala medical chek up dijalani. Dari pemeriksaan jantung, darah, dan medis lainnya dijalani. Di luar ruangan, si Lanang kembali menangis meratapi nasib dan cobaan yang sedang diujikan Tuhan, ia hanya berdoa, semoga bisa jalani cobaan tersebut, karena ia yakin Tuhan begitu sayang dengan dirinya sampai cobaan tersebut harus dihadapi dan dilewati, hingga pada endingnya memang yang diharapkan adalah kebahagaiaan. (*)