Kampanye Budaya Tak Boleh Lupa


Panggung Budaya tak Boleh Di Lupa

Panggung bagi kita hanya sebuah pesan lupa.
Selebihnya tampak punggung,
dapat dihitung, pesan lupa untuk tak lupa.
Tak ada panggung yang sebenarnya panggung.
Sisanya hanya tampak punggung.
Dari lupa, lalu alpa, sebelum mati
panggung kembali di dekorasi.
Budaya panggung tahunankah untuk dinikmati.
Kemudian entah kapan lagi mata memandangya,
kemudian entah kapan jemari ikut menari,
kemudian entah kapan senyum ikut menyeringahi.
Lalu, tak jadi lupa, melainkan menjadi menu sepanjang pagi.
Adakah di tanahku ini
panggung yang tak cepat jadi punggung
kemudian menjadi lupa
melihatnya seperti pelangi yang bermimpi.
Di tanah ini budaya tak boleh lupa

2015, Yoga Pratama



puisi ini digunakan untuk kampanye parade budaya yang kerap terjadi tahunan ataupun saat ada pesta rakyat di Provinsi Lampung. Selain saya (Yoga Pratama) ada sekolompok pemuda lainnya, yakni Hendri Yansah, Satrio Rinaldi, dan Yoga Anas Pratama yang telah merekam kejadian menarik yang ada di provinsi Lampung tentang budaya ini. Sewaktu sedang mengedit video, terbesit kenapa video ini tidak kita puisikan, kebetulan sudah ada puisinya, yakni mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak lupa dan terus mencintai kebudayaan yang ada. Kebudayaan adalah sebuah kerinduan bagi semua orang. Kita berempat pun begitu berharap panggung budaya menjadi konten lokal yang kerap menyuguhkan tontontan menarik setiap bulan atau minggu. Inilah potensi untuk menarik wisatawan ke setiap daerah, Seperti yang kerap ditanyakan kawan-kawan saya dari luar Lampung. "Kebudayaan apa yang saya bisa lihat di kota ini," kata dia. Ini juga yang kerap saya tanyakan kepada mereka, jika saya berada di kota mereka. (Admin Yoga Pratama)