Langkah-Langkah yang Harus Dilakukan Cerpenis Pemula

Langkah – Langkah Cerpenis Pemula


MENULISINDONESIA.COM - Cerita pendek atau biasa disebut cerpen merupakan sebuah cerita rekaan yang tertulis, yang mengandung alur/plot, dan pesan tertentu. Adapun jumlah karakternya tidak terlalu panjang.
Saya mencoba menyimpulkan/menyunting dari beberapa bahan bacaan yang telah saya baca tentang menulis cerpen agar dapat memudahkan bagi anda/pemula tang ingin bisa menulis cerpen. Hasil suntingan saya ini tentunya masih bersifat garis besarnya saja, dalam artian masih dapat dikembangkan dan dikreasikan sendiri. Karena menulis yang berkembang dilakukan sesuai dengan keinginan sendiri. Dan kemauan untuk menulis itu juga yang paling mudah dilakukan adalah berdasarkan keinginan sendiri.
1.             Menangkap ide
Setiap menulis, kita harus memastikan sudah memiliki ide cerita yang akan ditulis. Ide cerita tak melulu harus berpikir hal-hal yang rumit. Ide cerita bisa kita dapatkan dari kejadian sehari-hari, baik yang dilihat, dialami, ataupun yang didengar. Bahkan, ide ini bisa juga kita jadikan sebagai judul cerita.
Misal; saat melihat seorang pria sedang menghapalkan AL-Qur’an. Itu bisa dijadikan judu: “Pria Penghapal AL-Qur’an”. Nah itu adalah gambaran sekilas tentang ide cerita dan pengkaitan dengan judul. Jikalau judul masih kurang tepat, kita sebagai penulis masih bisa menggantinya dengan judul yang lain, dan dipastikan judul kita tidak jauh dari apa yang sudah kita tulis dalam bentuk cerita pendek tersebut.
2.             Menulis dengan gaya bahasa sendiri
Jangan pesimis untuk memulai. Terlebih dalam urusan menulis. Karena pesimis itu penyakit pemula, sehingga enggan memulai tulisannya. Rasa pesimis kerap menghantui, takut sekali bahwa karya tulis kita itu tidak sebaik dari karya tulis orang lain. Pesimis menjadi hantu, padahal kita belum pernah mencobanya.
Ketakutan pemula sehingga menjadi sifat pesimis dalam hal menulis ini biasanya terbentur karena bingung bagaimana memulai tulisan. Yakinlah, jika kita sudah biasa membaca, pastikan kita juga sudah bisa menulis.
Maka dari itu, menulislah dengan gaya bahasa sendiri. Dalam artian sederhana, kita menulis sebisa yang kita bisa tulis. Jangan dipaksakan. Biarkan hasil tulisan kita tersebut mengalir. Jadi jangan kita paksakan tulisan kita harus lebih bagus dari tulisan Kang Pidi Baiq, atau Tere Liye, atau selucu Raditya Dika, atau bahkan berusaha memaksakan agar gaya bahasa yang ditulis bisa mendayu-dayu ala Kahlil Gibran.
Maka, memulailah menulis dengan gaya bahasa sendiri. Kalau bisanya  hanya 2.000 karakter, sudah biarkan, itu sudah bagus dan baik. Tinggal kita menata kembali ribuan karakter lainnya. Karena itu sudah menuju ke cerpen yang sepanjang 7.000 karakter atau lebih.
3.             Membuat paragraf pembuka
Apa yang harus dilakukan pertama kali dalam menitihkan tulisan. Tidak ada kata lain, selain paragraf pembuka. Nah, membuat paragraf pembuka ini pun kita tidak usah terlalu berpikir rumit-rumit. Namun, kita harus menggarisbawahi bahwasannya paragraf pembuka adalah bagian yang penting, sebagaimana kita telah menentukan judul cerpen.
Karena itu, paragraf pembuka ini harus dibuat menarik, seperti judul. Karena, ada tidaknya seseorang akan membaca dan begitu tertarik membaca apa yang telah kita tulis itu pertama kali dimulai di paragraf pembuka. Buat pembaca terus terpancing dengan tulisan kita.
4.             Merangkai alur dan plot
Ketika semua bagian di atas sudah dipastikan keamanan dan kenyamanannya, mari kita lanjutkan paragraf yang telah ditulis. Kita juga harus memastikan telah merangkai kejadian demi kejadian. Dialog demi dialog. Narasi demi narasi. Dengan demikian, alur dan plot akan terbentuk dengan sendirinya.
Jadi cara yang paling mudah adalah, tuliskan apa saja yang ada di isi kepala dengan cara yang mudah dilakukan, tanpa takut salah. Misal, saya menuliskan apa yang di isi kepala saya di sebuah catatan handphone, yang nantinya akan saya jadikan satu dalam lembar kerja saya untuk menulis cerita. Dengan cara demikian diharapkan kita bisa lancar dalam menulis.
5.             Membuat konflik dan penyelesaiannya.
Sama halnya pada penjelasan nomor 4 di atas. Kita juga harus memastikan dalam cerita yang kita tulis ada konflik dan penyelesaian konfliknya. Jangan biarkan cerita yang ditulis monoton. Buat semenarik mungkin.
6.             Membuat paragraf penutup
Penutup cerita juga sangat penting. Kenapa? Karena sebuah cerita menjadi lengkap jika pada paragraf penutup mampu mempengaruhi pikiran pembaca. Jika bagian ending-nya bagus, maka cerpen pun bisa terdongkrak menjadi cerpen yang bagus. Bisa saja kita menjadikan ending pada cerpen yang ditulis dengan ending tertutup, ending terbuka, maupun ending yang mengejutkan.
7.             Mengendapkan tulisan dan mengedit tulisan
Cerpen sudah ditulis, lalu apa yang harus dilakukan? Nah, tidak ada kata lain selain melihat lagi cerpen yang sudah ditulis, dan dibaca kembali. Nah, pada fase ini juga dilakukan masa pengendapan. Kok pengendapan? Ya, pengendapan yang dimaksud adalah pemberian jeda sebelum di edit. Karena pada fase jeda ini kita akan lebih teliti dalam melakukan editing. Jadi tidak terkesan terburu-buru yang menyatakan cerpen kita sudah baik, ternyata masih ada tulisan yang salah. Sehingga, pada fase jeda ini juga kita dituntut untuk kembali membaca berulang-ulang.
Setelah fase pengendapan, yang bisa saja lama dan bisa saja singkat tersebut, kita penulis harus mengedit tulisan. Baca lagi, dan tandai dan ubah baik kesalahan tanda baca, ketepatan penggunaan EYD, masuk akal atau tidak cerita yang ditulis, dan hal-hal yang diperlukan untuk di edit. Editlah secukupnya dan sebaik-baiknya.
8.             Teruslah menulis
Selesai menulis cerpen, tulislah cerpen lainnya. Jangan cepat puas. Terlebih ada yang bilang cerpen kita bagus. Begitu juga ketika cerpen sudah berhasil masuk media masa, dan mendapatkan royalti dari penerbitan, jangan juga cepat puas. Tulis lagi, belajar lagi, tulis lagi, demikian seterusnya sampai mahir.

Selamat menulis.....