Negeri Ini Diambang Ketidakwarasan

Negeri Ini Diambang Ketidakwarasan

Negeri ini diambang ketidakwarasan rakyat-rakyatnya
orang-orang membuat api
orang-orang menyemburkan api
dan orang-orang menjadi penipu pada dirinya sendiri.

Negeri ini dibangun dengan segenap jiwa dan raga
darah dan nyawa adalah hidangan, agar anak cucu bisa merasakan buah kemerdekaan
tapi jiwa-jiwa yang meneruskan kini ada di jendela kemurkaan
jiwa yang ditenun dengan sihir takhta dan kuasa.

apa yang harus ditegakkan di negeri ini
mulut sudah peot berulang kali
kata keadilan sudah dipelintir sana-sini
dan kalian, berhentilan mencari ratu adil
jika hanya mengikuti kompor keinginan para politisi atau raja-raja yang sudah memetakan diri pada pendukungnya saat ini.

Dulu kata-kata itu untuk menghujam ketidakberesan
kini kata-kata saling sikut untuk menjatuhkan
dulu kata-kata sebagai pendukung kemerdekaan
kini kata-kata untuk memuluskan golongannya berkuasa.

Aku tulis sajak ini 22 Februari 2017, seusai bencana banjir melanda beberapa kota besar. Termasuk Lampung, sebagai tanah kelahiran. Aku tulis sajak ini penuh air mata.
Kepada Ibu Pertiwi, inilah cadar kabut duka yang telah terbuka.
Ketika golongan-golongan manusia seperti hamba sedang sibuk berkuasa
duka rakyat menjadi sudut-sudut gelap.
Dan apa yang terjadi: bukan bekerja dan membantu penderitaan, negeri ini sibuk saling menyalahkan. Ini sungguh gelap. Orang-orang yang memimpin masih buta dan tuli di dalam hati.

Ketika pemimpin negeri ini sedang sibuk merebut kezaliman asing. Dulu yang berteriak kini diam. Tapi nanti jika pemerintah gagal dan menyerah. Orang-orang kaum fakir tahta itu kembali sok berkoar.
Walah-walah, negeri ini mengerikan. Jika bukan golongannya dihujat habis-habisan. Jika golongannya, kesalahan seluas lautan pun disembunyikan.
Setidaknya jika kalian tidak bisa menjadi penyejuk, janganlah kalian menjadi mesin pemanas. Negeri ini sudah ganas tanpa kalian repot-repot menjadi orang yang merasa paling benar dan suci.