Surat Terbuka Untuk Adik-Adikku di Politeknik Negeri Lampung


Ist
HIDUP MAHASISWA?
HIDUP MAHASISWA?
HIDUP MAHASISWA?
HIDUP RAKYAT INDONESIA?

DEMIKIAN KATANYA....

Selama beraktifitas adik-adikku, selamat beraktifitas untuk sahabat-sahabat seperjuangan satu angkatan di Organisasi Mahasiswa  (Ormawa) Kampus, salam hangat dari saya “Mantan Wakil Presiden Mahasiwa BEM POLINELA 2012.
Perkenalkan saya Yoga Pratama, panggil saja Yoga. Angkatan 2010 di Produksi Ternak, Politeknik Negeri Lampung.
Pertama-tama saya meminta maaf atas rezim saya memimpin bersama Ahmad Iskandar dari Kebun 2010. Permohonan maaf ini saya utarakan setelah pra jabatan saya tidak memberikan sambutan. Jadi ini permintaan maaf saya yang pertama. Maaf jika selama memimpin dan sampai saat ini kami belum bisa menjadi contoh yang baik dalam beroganisasi.
Karena kami sadar, setiap era punya masa, dan setiap masa ada panggung pada eranya. Semua takkan sama. Karena perjuangan yang ingin ditampilkan adalah peran yang juga ingin disampaikan. Pastinya setiap regenerasi beda.
Kami sadar, selama kami menjadi Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa belum bekerja dengan baik. Masih banyak PR. Terlebih soal bersatu padunya Ormawa di Polinela. Kami sadar betul. Ini perseteruan bukan kali ini saja. Tapi juga ada pada masa kami.
Dengan surat terbuka ini saya pribadi juga ingin meminta maaf. Bukan mau mengintervensi masa kepemimpinan kalian. Era kalian. Saya minta maaf. Tak ada maksud. Saya hanya sekedar menulis keresahan saya. Ternyata keresahan itu saya harus sampaikan dengan meminta maaf, karena turun temurun yang masih dipertahankan adalah pertengkaran.
Wajar. Setiap era dan masa kepemimpinan punya tujuan. Banyak sekali politis di lingkungan kampus. Banyak yang ingin berkuasa. Tapi saya jadi prihatin, tapi saya bukan bapak prihatin ya, yang setiap melihat situasi buruk saya langsung sebut prihatin. “Prihatin” lagi trend di era kami memimpin, itu ciri khas kepala negara kami saat itu.
 Saya hanya sekedar ingin menulis surat terbuka yang isinya mendongeng; sekedar menyejukan suasana. Kalau masih ada yang panas, coba periksa ke dokter terdekat mungkin demam.
Di sisi lain, melihat situasi seperti yang terjadi di Polinela saat ini justru saya bangga. Kenapa? Proses demokrasi berjalan. Kursi kepemimpinan diperebutkan. Ada juga yang mempertahankan. Jujur saya bangga. Karena ada era yang berani adu urat, adu gagasan, adu paham, dan adu kekuasaan. Siapa yang berkuasa? Siapa yang pantas menjadi penguasa? Siapa yang mengincar kursi kuasa? Itu jelas, bisa dipelajari dengan berpolitik di kampus yang kita cintai ini.
Anggap kampus kita ini, sebuah negara. “saya tidak pernah mengatakan negara di dalam negara” demokrasilah. Kalian saat ini sedang belajar bagaimana memahami tentang hidup. hingga ketika lulus dari kampus yang kita amat banggakan ini kalian punya apa yang akan diceritakan. Lalu, kalian bisa membedakan. Untuk apa kalian bersikap saat ini. Selama memahami.
Saya bukan mengintervensi. Sekali lagi, surat terbuka ini sebuah dongen buat kalian, biar nggak sesat pikir. Kasihan saya. Membayar psikiater untuk menyembuhkan pikiran yang sesat itu mahal soalnya. Lalu, kalian emosi. Kampus dirusak. Walah celaka.
Dengan surat yang saya sebut dongeng ini saya juga sedikitnya saya akan curhat. Kenapa ada tanda tanya di balik Hidup Mahasiswa dan Hidup Rakyat. Coba pahami, ke salam kecintaan kita “????”. Sudah mengertikah?
Jadi begini ceritanya? Saya selalu bertanya, kenapa mahasiswa sering berteriak tapi tidak sesuai realita. Jujur ketika saya ditugaskan ke Provinsi lain diluar Lampung dalam agenda apapun, saya menghindari namanya kunjungan wisata. Selesai persidangan dan hal yang penting saya pulang ke kampus saya.
Saya berusaha amanah dengan biaya yang saya gunakan, itu uang mahasiswa. Lalu, setelah sampai saya ajak kumpul dan berikan pemahaman. Hasil dari diskusi selama di luar kota. Jika masih ada yang tidak terima, itu bisa bertanya. Jika dibelakang menggerutu biar jadi dosa saya.
Eh, memimpin BEM itu nggak enak. Banyak fitnahnya. Dulu saya difitnah ini dan itu. tapi saya tantang membuktikan tidak ada yang berani. Kerjaan kita dibilang tidak pro mahasiswa. Tapi semampu kami sudah melayani.
Banyak gerakan di kampus itu hanya sekedar EO “Event Organizer” buat apa berebut. Buat saja lembaga baru. Kami menghindari penyelenggaraan event. Makanya kerjaan kami banyak diluar, berbaur dan berdiskusi, jika aksi saya tak mau ada yang menunggangi.
“EH berbicara tunggang saya punya cerita,” jadi begini; dulu ada organisasi besar dan katanya sih bapaknya organisasi, bukan organisasi saya. Ada laporan masuk as 1, dari orang-orang intel kampus, bahwa ada mahasiswa kita ikut aksi bayaran. Tahu berapa? Nasi bungkus dan uang 50 ribu. MEMALUKAN. Saya sebut ini memalukan didepan forum sidang. Saya disuruh keluar dari ruangan.
Tapi itu cerita. Sekedar mendongeng kan. Jadi begini adikku sayang. Coba bicarakan lagi lah. Ada win solution kok. Masih ada roti yang bisa dibagi. Jangan berebut. Memang enak tah berkuasa. Yang jelek jadi ganteng. Yang jelek jadi cantik. Tidakkan. Bicarakan dengan dingin, ada solusi, jangan egois, nantikan rugi sendiri kalau terus begini.
 Untuk pihak kampus, bapak dan ibu pemegang kebijakan; tolong arahkan adik-adik kami, pertemukan, dan satukan. Fasilitasi. Jangan ancam dan jangan disanksi. Namanya proses demokrasi.
Bapak dan ibu, adik-adik kami ini lagi labil. Tingkat emosinya masih tinggi. Perlu arahan. Coba dipertemukan, dibicarakan. Kalau bisa cari jalan tengah. Bapak pimpinan bisa memvoting, mendukung atau tidak mahasiswa dengan kebijakan yang notabenenya mahasiswa sendiri yang membuat. Jadi tidak sulit.
“Apa kalian bisa,” saya percaya kalian bisa atasi ini sendiri. Tapi urat syaraf kalian terlalu tinggi. Adikku sayang, saya itu ikut beroganisasi tidak hanya di Polinela saja. Semua sama kok. Ujung ya begitu. Makanya solusi yang saya sebutkan di atas bisa jadi lebih baik membantu.
Selamat menikmati. Maaf nanti bersambung jika ingat, lagi cari kopi. Ssst... sudah jangan bertengkar, nggak malu sama semut yang gotong royong, ini kok malah berebut. (*)